DKP Kukar Siapkan Solusi Pengairan agar Budidaya Tetap Berjalan Saat Kemarau
Salah satu kolam ikan milik warga yang mengalami kekeringan. Foto kanan : Kepala DKP Kukar, Muslik. (Kriz)
POSKOTAKALTIMNEWS, KUKAR : Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) menyiapkan langkah penguatan sistem pengairan untuk menjaga aktivitas budidaya perikanan tetap berjalan di tengah kondisi kemarau.
Ketersediaan air
menjadi perhatian setelah penyusutan debit di sejumlah wilayah mulai
memengaruhi kegiatan budidaya dan pembenihan.
Kondisi tersebut
tidak hanya berkaitan dengan berkurangnya volume air, tetapi juga menyangkut
keberlanjutan aktivitas masyarakat yang menggantungkan usaha pada sektor
perikanan budidaya.
Ketika sumber air
menyusut, ruang yang dapat dimanfaatkan untuk kegiatan budidaya ikut semakin
terbatas.
Kepala DKP Kukar,
Muslik mengatakan, kondisi tersebut menjadi bahan evaluasi untuk menyiapkan
langkah antisipasi yang tidak hanya bersifat sementara.
Penguatan
infrastruktur pengairan dinilai perlu dipikirkan sebagai bagian dari dukungan
terhadap keberlanjutan usaha perikanan masyarakat.
Salah satu opsi yang
mulai dipertimbangkan adalah penyediaan sumur bor di kawasan yang membutuhkan
sumber air alternatif.
Selain itu, DKP juga
membuka kemungkinan penggunaan sarana lain yang dapat membantu memenuhi
kebutuhan pengairan bagi sentra budidaya.
“Ini barangkali
mungkin tahun-tahun depan menjadi pemikiran kita. Jadi bagaimana kita mencoba
nanti mungkin dengan penyediaan sumur bor, atau mungkin alat-alat lain yang
kira-kiranya bisa menunjang pengairan yang bagus,” ujarnya saat dihubungi pada
Jumat (25/9/2026).
Menurutnya,
pengalaman menghadapi kondisi kemarau saat ini menunjukkan bahwa sarana
pendukung seperti pompa tidak akan cukup apabila tidak dibarengi ketersediaan
sumber air.
Karena itu,
lanjutnya, perencanaan pengairan perlu melihat keseluruhan sistem, mulai dari
sumber air hingga bagaimana air tersebut dapat dialirkan ke kawasan budidaya.
Kondisi di lapangan
memperlihatkan sejumlah keramba harus mengikuti bagian perairan yang masih
memiliki kedalaman.
Sementara itu,
beberapa kolam pembenihan mulai mengalami kekeringan akibat terus menyusutnya
debit air.
Situasi tersebut
membuat aktivitas budidaya di sejumlah lokasi harus menyesuaikan kondisi
perairan.
Pembudidaya tidak
bisa sepenuhnya mengandalkan pola pengelolaan yang berjalan pada kondisi normal
karena ketersediaan air berubah mengikuti musim.
“Misalnya
keramba-keramba itu sudah jauh menjauh ke tengah. Kemudian kolam-kolam
pembenihan sudah beberapa yang mengalami kekeringan,” ujarnya.
Di tengah kondisi
tersebut, penggunaan pompa menjadi salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk
memindahkan air ke lokasi yang membutuhkan.
Namun, langkah itu
memiliki keterbatasan ketika sumber air di sekitar kawasan budidaya ikut
mengalami penyusutan.
Is menggambarkan
kondisi tersebut dengan sederhana. Menurutnya, keberadaan pompa tidak banyak
membantu jika sumber air yang hendak dialirkan memang sudah tidak tersedia.
“Sekarang kan kita
mau menyiapkan pompa, airnya juga nggak ada,” tegasnya.
Karena itu, DKP Kukar
mulai melihat kebutuhan pengairan secara lebih luas, selain sumber air
alternatif seperti sumur bor, pembenahan saluran atau aliran sungai juga dapat
menjadi bagian dari solusi untuk menjaga ketersediaan air di kawasan perikanan.
“Kalau bisa kita
lakukan pembenahan-pembenahan, walaupun kondisi seperti ini, air masih bisa
masuk,” jelasnya.
Gagasan tersebut
menjadi salah satu alternatif yang dapat dipertimbangkan untuk jangka panjang.
Dengan pembenahan
aliran, kebutuhan air bagi kawasan tertentu tidak sepenuhnya bergantung pada
curah hujan atau kondisi debit saat kemarau.
Ia mengatakan
pengalaman pada musim kemarau menjadi pelajaran penting bagi pengembangan
sektor perikanan budidaya di Kukar.
Infrastruktur
pengairan perlu disiapkan dengan mempertimbangkan kondisi alam dan
karakteristik masing-masing wilayah.
Terlebih, Kukar
memiliki kawasan perikanan dengan kondisi geografis yang beragam, sebagian
wilayah mengandalkan perairan sungai, sementara sebagian lainnya memanfaatkan
kolam atau keramba, sehingga kebutuhan pengairannya juga berbeda.
Ia mengakui, dampak
kemarau telah membuat sejumlah kegiatan budidaya untuk sementara berhenti.
Namun, pihaknya
berharap kondisi tersebut tidak berlangsung lama sehingga aktivitas masyarakat
dapat kembali berjalan.
“Mudah-mudahan
kondisi kemarau seperti ini tidak berlangsung lama lagi,” tuturnya.
Sementara itu, dampak
kekeringan turut dirasakan pembudidaya ikan nila, Mandra, warga Desa Sepakat,
Kecamatan Loa Kulu.
Ia mengatakan kondisi
kolamnya mulai mengering sehingga untuk sementara menghentikan aktivitas
budidaya.
“Kolam ikan saya
memang mulai kering, jadi untuk sementara ini saya sudah tidak melakukan
budidaya dulu,” ujarnya.
Ia menilai program
sumur bor akan membantu pembudidaya yang menghadapi keterbatasan air.
Ia menyebut biaya
pembuatan sumur bor secara mandiri cukup besar, berdasarkan informasi yang
pernah diperolehnya.
“Kalau memang ada
program sumur bor, sangat mendukung karena membantu kami. Saya juga sudah
pernah tanya soal pembuatan sumur bor, memang cukup mahal, mulai Rp35 jutaan
tergantung seberapa dalam,” ungkapnya.
Ia berharap program sumur bor dapat direalisasikan di kawasan budidaya yang terdampak kekeringan, sehingga pembudidaya memiliki sumber air alternatif dan dapat kembali menjalankan usahanya.
“Harapannya kalau
memang ada program sumur bor, mudah-mudahan bisa direalisasikan,” tutupnya.
(Adv/Kriz)